Back To Top

Setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kabar itu mulai terdengar hingga ke mancanegara. Tak terkecuali negara-negara di jazirah Arabia. Mereka kemudian bertekad mengakui kedaulatan Indonesia. Untuk membuktikannya, Liga Arab berniat mengutus delegasi datang langsung ke Indonesia.

Sri Sultan HB IX Menerima M. Abdul Muin
(Sumber: internet)

Awal Desember 1946 sebuah surat kabar di Arab mengangkat berita utama tentang rekomendasi Liga Arab, agar para anggotanya mengakui kedaulatan Indonesia. Mengetahui kabar tersebut negara-negara barat, khususnya Belanda meradang. Bersepakat dengan Inggris, keduanya mencekal setiap utusan yang akan datang ke Indonesia. Semula Sekretaris Jenderal Liga Arab, Azzam Pasya yang digadang bisa menyampaikan langsung dukungan Negara Arab kepada Presiden Soekarno. Harapan itu kandas, sebab Azzam Pasya dicekal dan tidak bisa keluarg negeri.

Tak berputus asa, Azzam pun berdiskusi dengan jajaran Liga Arab. Diambillah opsi, mencari perwakilan Liga Arab yang jaraknya paling dekat ke Indonesia. Pilihan jatuh kepada Konsul Jenderal Mesir di Bombay India, Muhammad Abdul Mun’im. Diapun dipanggil ke Mesir. Mun’im mendapatkan penjelasan lengkap tentang tugas berat yang akan diterima. Amanah penting dan sangat rahasia.

Selain ditugaskan mengantarkan surat kepada Soekarno – Hatta, Mun’im juga diharapkan membawa suplai senjata. Sehingga ia butuh mencarter pesawat yang bisa membawa sampai ke Indonesia. Tugas yang benar-benar sulit dan berbahaya. Apalagi sepanjang jalur menuju Indonesia masih dalam kekuasaan Inggris dan Belanda.


Sebelum berangkat, Mun’im menemui sang istri, bermohon diri. Ia nyatakan, harus pergi beberapa pekan untuk menunaikan tugas rahasia. Tugas yang siapapun tak boleh tahu, termasuk istrinya. Mun’im pamit, menggenggam tangan istrinya seraya menyerahkan sebuah amplop. “Kalau saya pulang dengan selamat dari tugas maka kita akan membuka amplop ini,” tuturnya. Sang istri tidak tahu, amplop itu berisi polis asuransi senilai 5000 pounds Mesir.

Kembali ke Bombay, Mun’im mencari siasat. Ia putuskan menyewa pesawat jenis Dakota, berpamitan akan mencari binatang buas di Melayu. Semula, disusun rencana langsung membelokkan pesawat ke Indonesia. Hanya saja itu dinilai terlalu beresiko, dan sang pilot pun tidak berani menembus ketatnya penjagaan udara yang dilakukan Belanda.

Akhir Februari 1947, Mun’im tiba di Singapura. Memutar akal, mencari jalan ke Indonesia, tetapi seperti sia-sia. Seolah semua pintu tertutup. Ia pun lantas berbicara terus-terang ke Konsulat Belanda yang ada di Singapura. Bisa ditebak, keinginannya ke Indonesia pun ditolak. Bahkan Konsulat Belanda mengeluarkan surat, intinya Mun’im dilarang masuk Indonesia.

Tidak menyerah, Mun’im mengumpulkan data dan informasi bagaimana ke Indonesia tanpa jalur resmi. Ia mendengar seorang wanita asal Amerika yang mendukung Indonesia, K’tut Tantri. Kabarnya, Tantri pernah menembus blokade Belanda, dari Jawa ke Singapura. Keduanya bertemu, K’tut Tantri menguraikan, perjalanan dari Jawa lebih mudah karena para pribumi membantu menyiapkan rencana. Tidak demikian jika dari Singapura ke Jawa. Indonesia tidak memiliki kapal yang berlayar dari Singapura ke Indonesia.


K’tut menemui seorang pengusaha Inggris yang juga bersimpati kepada Indonesia. Pengusaha itu menyarankan agar Mun’im menyewa pesawat dari Filipina. Tetapi ternyata biayanya sangat mahal. 10.000 dolar. K’tut menawar, pembayaran akan dilakukan setelah pesawat kembali dari Jawa. Lalu siapakah pembayarnya? K’tut meyakinkan, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sebagai penjamin, dan Pemerintah Mesir yang akan membayarnya.

Hari keberangkatan tiba. K’tut Tantri dan Mun’im mengendap, bergegas menuju pesawat  yang sudah siap terbang. Memastikan tidak ada petugas bandara yang melihat. Pesawat mengudara, meninggalkan Singapura, beberapa orang petugas bandara kaget dan berlarian, hanya bisa menyaksikan pesawat yang telah terbang tanpa seizin mereka.

Di angkasa, pesawat yang ditumpangi Mun’im dikejar pesawat Belanda. Memaksa agar pilot membelokkan arah menuju Jakarta. Rupanya Belanda sudah tahu, tujuan Mun’im adalah Yogyakarta. Pilot mengambil langkah berani, ia tak mau turun di Jakarta. Ia memilih meloloskan diri dari kejaran pesawat tempur Belanda. Aksi kejar-kejaran yang menegangkan membuat Mun’im dan K’tut Tantri seperti mati rasa. Untunglah, sang pilot sudah terlatih dan mereka pun lolos dari kejaran Belanda.

Kamis, 13 Maret 1947, Komanda Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, Mayor Sudjono kaget mendengar suara pesawat. Tampak pesawat Dakota yang hendak mendarat. Pasukan pun bersiap untuk berjaga.

Jumat, 14 Maret 1947, tersiar kabar menggemparkan, tentang utusan Liga Arab yang berhasil tiba di Yogyakarta. Meloloskan diri dari blokade Belanda. Kedatangan Abdul Mun’im juga membuat pejabat Indonesia kelabakan, pasalnya inilah kali pertama mereka menerima tamu negara.

Mayor Sudjono berusaha mengontak istana untuk mengirimkan mobil penjemputan. Nyatanya, tidak selekasnya istana merespon. Mun’im yang telah lama menunggu merasa gusar. Ia pun meminta agar segera ke istana, tak masalah meski menggunakan mobil seadanya. Perjalanan 15 km dari Maguwo ke istana ditempuh dengan mobil pick up terbuka.

Setiba di Istana, Presiden Soekarno sedang memimpin sidang kabinet terkaget. Utusan Liga Arab sudah di depan istana. Sekjen Kementerian Agama, HM. Rasyidi, yang pernah belajar di Mesir dianggap bisa berkomunikasi dengan baik, maka dialah yang mencarikan tempat menginap untuk Mun’im. Tetapi hotel-hotel di Yogya sudah terisi. Setelah mendapat persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Mun’in dipersilakan menginap di Kepatihan. Letaknya di Jalan Malioboro, sebelah utara Kraton Yogyakarta. Sekarang tempat ini menjadi kantor Gubernur DIY.

Mun’im menunaikan shalat Jumat di Masjid Gedhe Kauman bersama Sultan dan para menteri. Masyarakat Yogya yang mengetahui itu sangat antusias. Mereka mengerubuti Mun’im dan Sultan. Mun’im merasa terharu, tak pernah membayangkan bisa menemui saudara-saudaranya di Indonesia.

Sabtu, 15 Maret 1947, Muhammad Abdul Mun’im, tamu negara pertama di Indonesia itu pun diterima secara resmi oleg Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Mun’im membacakan pidato yang intinya: Keputusan Dewan Liga Arab pada sidang 18 November 1946 menganjurkan kepada negara Arab yang memiliki pertalian agama dan persaudaraan agar mengakui kedaulatan Indonesia.

Mun’im juga mengungkap tujuh negara yang tergabung di Liga Arab yang telah mengakuti kemerdekaan Indonesia yakni: Mesir, Irak, Suriah, Libanon, Saudi Arabia, Yordania dan Yaman.

Setelah bertemu dengan para pejabat, dan mengunjungi warga keturunan arab di beberapa tempat. Senin malam Mun’in dan K’tut Tantri bersiap pulang. Pada waktu berdekatan, Indonesia akan mengikuti The Asian Relations Conference di New Delhi India, 23 Maret – 2 April 1947. Delegasi Indonesia terdiri dari 26 orang yang antara lain, Dr. Abu Hanifah (Ketua), Haji Agus Salim (Wakil Menteri Luar Negeri), A.R. Baswedan (Wakil Menteri Penerangan), HM. Rasyidi (Sekjen Kementerian Agama). Tetapi Indonesia tidak memiliki pesawat yang mampu menembus blokade Belanda.

Kesempatan pun diambil. Kepulangan Mun’im ke Singapura bisa membuka jalan bagi delegasi Indonesia. Setelah meminta izin, 26 orang itu pun menumpang pesawat yang dicarter Mun’im. Pilot sempat keberatan sebab melebihi batas muatan. Tetapi para delegasi bisa meyakinkan, karena badan mereka kecil dan kurus sehingga tak akan membebani pesawat.

Akhirnya pesawat pun mengudara. Kedatangan tamu Negara di Indonesia yang tidak saja menyuntikkan semangat bagi republik yang baru saja mendeklarasikan kemerdekaan. Tetapi juga membuka mata dunia, untuk tidak takut mendukung kemerdekaan Indonesia. Kedatangan Mun’im sekaligus membuka jalan bagi para diplomat Indonesia untuk berkiprah di dunia Internasional.

Inilah kisah Muhammad Abdul Mun’im, perjalanan penting, penuh resiko dan sangat berbahaya ini mungkin tidak pernah diungkap pada mata pelajaran sejarah di Sekolah. Tetapi ia menjadi bagian penting dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Tambahan : Mesir dan Palestina merupakan dua negara yang pertama-tama memberi dukungan terbuka untuk kemerdekaan Indonesia. Pada 22 Maret 1946, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.  Sedangkan Palestina melalui Mufti besar Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini sudah memberikan dukungan, sekira satu tahun sebelum Indonesia merdeka. Sejak Mesir dan Palestina mengakui kemerdekaan Indonesia, negara di Timur Tengah kemudian mengikuti. [KM/08]


Sumber rujukan:
1.    Perjuangan yang Dilupakan tulisan Rizki Lesus diterbitkan Pro U Media Yogyakarta.
2.    https://groups.google.com/forum

0 komentar:

Post a Comment

Paling Banyak Dibaca