Muhasabah, Memperbaiki Diri dan Memohon
Cinta Kasih Allah SWT
HM. Wahib Jamil
(Kepala Kantor Kementerian Agama Kulon
Progo)
Khutbah
pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ،
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah
Shalat Istisqa’ rahimakumullah,
Marilah kita
senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada hari ini, kita berkumpul
dengan hati yang tunduk, tangan yang menengadah, dan harapan yang besar kepada
Allah SWT, memohon agar diturunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, dan
kehidupan bagi seluruh makhluk.
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Kemarau panjang yang
kita rasakan membawa berbagai kesulitan. Sumber air mulai berkurang, tanah
mengering, tanaman merindukan air, petani menghadapi kesulitan, dan kebutuhan
masyarakat terhadap air bersih semakin meningkat.
Secara ilmu alam,
kemarau panjang dapat terjadi karena berkurangnya curah hujan, pergeseran pola
angin dan musim, pengaruh fenomena iklim seperti El Niño, serta perubahan iklim
jangka panjang. Kondisi tersebut dapat diperparah oleh kerusakan hutan,
berkurangnya daerah resapan air, dan penggunaan air yang tidak bijaksana.
Semua itu merupakan
bagian dari sebab-sebab alamiah yang perlu kita pahami dan ikhtiarkan
solusinya. Adapun dalam pandangan iman, keadaan ini juga hendaknya menjadi
momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, sesama
manusia, dan alam semesta.
Allah SWT berfirman
dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka,
agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
Ayat ini
mengingatkan bahwa perilaku manusia dapat menimbulkan kerusakan dan bahwa
berbagai peristiwa semestinya mendorong kita untuk kembali kepada Allah. Namun,
kita tidak boleh memastikan bahwa setiap kemarau merupakan hukuman atas dosa
orang atau kelompok tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan,
sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri.
Oleh karena itu, ada
tiga ikhtiar penting yang perlu kita lakukan.
Pertama, menyadari
kesalahan, memperbanyak istighfar, dan bertaubat kepada Allah SWT.
Jamaah
rahimakumullah,
Sebelum kita meminta
hujan dari langit, marilah kita terlebih dahulu menundukkan hati, mengakui
kelemahan, dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita.
Mungkin selama ini
kita kurang bersyukur atas nikmat air. Kita menggunakan air secara berlebihan,
mengabaikan kebersihan lingkungan, merusak alam, atau melalaikan kewajiban
kepada Allah dan sesama manusia.
Allah SWT berfirman
dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ
كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ
بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya: “Maka aku
berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha
Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,
memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan
mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
Inilah pelajaran
penting dari dakwah Nabi Nuh AS: istighfar dan taubat merupakan jalan untuk
kembali kepada Allah serta mengharapkan rahmat dan pertolongan-Nya.
Mari kita perbanyak
membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Aku memohon ampun
kepada Allah Yang Mahaagung dan bertaubat kepada-Nya.
Taubat bukan sekadar
ucapan di lisan, melainkan penyesalan di hati, meninggalkan dosa, bertekad
tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain apabila kita pernah
menzalimi mereka.
Kedua, berazam
memperbaiki perilaku, meningkatkan ketaatan, dan menjaga kelestarian alam.
Jamaah
yang dirahmati Allah,
Taubat yang benar
harus melahirkan perubahan. Tidak cukup kita memohon ampun kepada Allah,
sementara perilaku kita tetap sama. Tidak cukup kita meminta hujan, tetapi
setelah hujan turun kita kembali merusak alam dan mengabaikan nikmat-Nya.
Allah SWT berfirman
dalam Surah Al-A’raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ
إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ
الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Janganlah
kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya
dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini mengajarkan
bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai hamba
Allah.
Mari kita mulai dari
hal-hal sederhana: menggunakan air secukupnya, menjaga sumber mata air, menanam
dan merawat pohon, melindungi hutan, menjaga daerah resapan air, tidak membuang
sampah sembarangan, serta tidak merusak lingkungan.
Kita juga harus
meningkatkan ketaatan kepada Allah, memperbaiki hubungan antarsesama, membantu
warga yang kesulitan air, dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang
membutuhkan.
Jangan sampai kita
hanya meminta Allah menurunkan hujan, tetapi kita sendiri tidak mau menjaga
bumi yang menjadi tempat turunnya rahmat-Nya.
Ketiga, bersandar
sepenuhnya kepada Allah SWT dengan doa dan harapan yang tidak pernah putus.
Jamaah
Shalat Istisqa’ yang dimuliakan Allah,
Setelah kita
beristighfar dan bertekad memperbaiki diri, marilah kita bertawakal kepada
Allah. Kita menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ilmu pengetahuan
membantu kita memahami cuaca, teknologi membantu mengelola air, dan kerja
bersama membantu mengatasi kekeringan. Namun, kita tetap menyadari bahwa segala
sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Allah berfirman
dalam Surah Asy-Syura ayat 28:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ
بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya: “Dialah
yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.
Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.”
Ayat ini meneguhkan
hati kita agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Maka hari ini,
marilah kita menengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati. Kita datang
bukan karena merasa suci, melainkan karena menyadari banyaknya kekurangan. Kita
memohon bukan karena merasa berhak, melainkan karena sangat membutuhkan kasih
sayang Allah.
Semoga Allah
mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, memperbaiki keadaan kita, dan
menurunkan hujan yang penuh rahmat, bukan hujan yang membawa bencana; hujan
yang menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, memenuhi sumber air, memberi
minum manusia dan hewan, serta mendatangkan keberkahan bagi seluruh makhluk.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ،
اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَتُوبُوا إِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.
Jamaah
rahimakumullah,
Marilah kita tutup
khutbah ini dengan memperbarui taubat, memperbanyak istighfar, memperbaiki
amal, dan memohon kepada Allah dengan penuh harapan.
Semoga Allah
mengangkat kesulitan yang kita hadapi, mencukupi kebutuhan air masyarakat,
melindungi para petani, menyelamatkan tanaman dan ternak, serta memberikan
pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak kekeringan.
Mari kita berdoa
semoga Allah meridloi turunnya hujan yang penuh RahmatNya;
اللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا،
مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ.
Ya Allah,
turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, dan
memberikan manfaat; bukan hujan yang membahayakan. Turunkanlah dengan segera,
bukan dengan penundaan.
اللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اللّٰهُمَّ
أَغِثْنَا، اللّٰهُمَّ أَغِثْنَا.
Ya Allah, tolonglah
kami dengan hujan-Mu. Ya Allah, tolonglah kami dengan hujan-Mu. Ya Allah,
tolonglah kami dengan hujan-Mu.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا،
وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Ya Allah, ampunilah
dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami,
wahai Zat Yang Maha Penyayang.
اللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ
وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، وَاجْعَلْهُ غَيْثَ رَحْمَةٍ وَبَرَكَةٍ
وَإِحْيَاءٍ لِلْأَرْضِ وَالْعِبَادِ.
Ya Allah,
turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk
orang-orang yang berputus asa. Jadikanlah hujan itu sebagai hujan rahmat,
keberkahan, serta kehidupan bagi bumi dan seluruh hamba-Mu.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا،
وَبَارِكْ لَنَا فِي مِيَاهِنَا وَزُرُوعِنَا وَثِمَارِنَا، وَاحْفَظْنَا
وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْقَحْطِ وَالْفَسَادِ.
Ya Allah,
perbaikilah keadaan kami. Berkahilah air, tanaman, dan hasil bumi kami.
Lindungilah kami dan negeri kami dari bencana, kekeringan, dan kerusakan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً،
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

