Masril Koto, Kisah Sukses Bank Tani Berawal dari Uang Receh


Bank menolak petani
karena mereka
tidak punya agunan.
Rentenir menjadi
satu-satunya pilihan.
"Permohonan pinjaman Anda ditolak."

Masril Koto (Sumber: IG @masrilkoto)


Kalimat itu berkali-kali
diterima
para petani
di sebuah desa
di Kabupaten Agam,
Sumatera Barat.
Lalu seorang pria
yang tidak tamat SD
mulai mengumpulkan
uang receh
dari para petani.
Setiap hari mereka
bekerja di sawah.
Mereka menanam.
Mereka memanen.
Namun ketika
membutuhkan
modal usaha,
pintu bank justru tertutup.
Agunan tidak punya.
Penghasilan
dianggap tidak pasti.
Pilihan yang tersisa
hanya rentenir.
Pinjam sedikit,
bayar
lebih banyak.
Utang terus
bertambah.
Panen berikutnya datang.
Hasilnya habis
bahkan sebelum
sampai rumah.
Sebagian untuk utang.
Sebagian untuk bunga.
Dan mereka tetap harus
membeli bibit
untuk musim
berikutnya.
Hidup mereka
tidak pernah
benar-benar berubah.
Masril muak melihat keadaan itu.
Ia sendiri hanya sempat
sekolah sampai
kelas 4 SD.
Membuat keterbatasannya
terasa nyata.
Pagi-pagi,
Masril melihat petani
pulang dari sawah.
Hasil panen
dibawa pulang.
Tetapi ketika
modal berikutnya habis,
mereka kembali
mencari pinjaman.
Namun ia percaya,
masalah petani bukan
karena mereka malas.
Mereka hanya tidak
diberi kesempatan.
_2006,
Masril mengumpulkan
para petani.
Bukan untuk
meminta bantuan.
Melainkan
mengumpulkan
iuran recehan.
Masril mulai
mendatangi mereka.
Satu rumah.
Satu petani.
Satu iuran.
Tidak banyak.
Uang receh berpindah tangan
dan dikumpulkan menjadi satu.
Sedikit demi sedikit.
Dari uang itulah
mereka mendirikan
Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis
yang dikelola sendiri
oleh para petani.
Tidak ada kantor besar.
Tidak ada meja bank.
Yang ada hanya
uang yang dikumpulkan para petani
dan catatan pinjaman
yang mulai dibuat.
Banyak yang menertawakan.
Bagaimana mungkin
petani membangun
lembaga keuangan sendiri?
Namun
yang dianggap mustahil
justru
mulai berjalan.
Petani yang dulu ditolak
meminjam modal
kini bisa saling membantu.
Usaha mereka berkembang.
Untuk pertama kalinya,
seorang petani
datang mencari modal
tanpa harus
mendatangi rentenir.
Rentenir mulai
kehilangan pengaruh.
Dana yang dikelola
mencapai
puluhan miliar rupiah.
Ribuan keluarga petani
berhasil keluar
dari jerat utang.
Orang-orang kemudian
mengenalnya sebagai...
Bank Tani.
Kini Bank Tani
memiliki jaringan
ratusan cabang
di berbagai daerah.
Semuanya berawal
dari seseorang
yang hanya sempat sekolah
sampai kelas 4 SD.
Namanya...
Masril Koto.
Bank pernah menutup pintunya
karena mereka tidak punya agunan.
Masril membangun pintu
yang tidak meminta itu.


by AJRaharjo

Sumber : Facebook




LihatTutupKomentar